How I Met Some Strangers
![]() |
| source |
Dua hari yang lalu saya baru aja balik dari Kota Surabaya. Saya pergi ke Surabaya sendirian, naik kereta api ekonomi. Duh, rasanya awkward pergi sendiri tanpa seorang pun yang saya kenal. But, that was fine, Alhamdulillah saya ketemu sama orang-orang baik selama perjalanan di kereta api. Nah, disini saya mau cerita tentang beberapa orang asing yang sempat saya temui selama di Surabaya. Cekidot...
1. The Woman
Saya pulang dari Surabaya hari Senin naik kereta ekonomi AC Logawa yang berangkat pukul 09.40. Berhubung waktu itu hari Senin dimana temen-temen saya udah mulai kegiatan magang jam 8 pagi, jadi saya diantar ke stasiun jam 07.30. Saya bingung harus ngapain di stasiun selama 2 jam nunggu kereta datang. Akhirnya saya cuma duduk di kursi tunggu sambil melihat orang sibuk lalu lalang dan sesekali mainan handphone.
Di sela kejenuhan menunggu, tiba-tiba datanglah seorang ibu sekitar 50+ berkaos pink dan celana panjang menghampiri saya dan duduk di sebelah saya. Ibu itu bawa form pemesanan tiket yang udah diisi. Saya lihat wajahnya yang dirias dengan eyeshadow warna hijau dan gincu merah tersenyum ke saya lalu berkata, "Maaf mbak, ibu dari rumah sakit habis berobat. Sekarang ibu mau pulang ke Blitar tapi sudah nggak ada uang sama sekali. Ibu minta tolong minta uang untuk beli tiket". Nah lho, saya paling males nih kalau tiba-tiba didatengin orang nggak dikenal yang memelas minta uang. Saya sempet niat nggak mau ngasih karena saya pikir ibu itu minta uang sampai puluhan ribu. Saya takut kena tipu atau kena hipnotis gitu haha. Saya sempet nanya beberapa pertanyaan buat memastikan kalau ibu itu bukan penipu, tapi ternyata jawaban ibu itu cukup nggak nyambung dengan pertanyaan saya. "Minta uang untuk beli tiket mbak, 5500 aja..", kata ibu itu. Oh, cuma 5500, ya udah akhirnya saya kasih ibu itu beberapa lembar uang ribuan yang ada di dompet. Toh semakin cepat ibu itu pergi, semakin saya merasa nyaman sendiri.
Saya sempat memperhatikan gerak-gerik si ibu, ya emang karena nggak ada kerjaan aja sih. Ibu itu antri di loket. Setelah selesai berurusan dengan petugas loket, si ibu berjalan kembali ke meja tempat penulisan form pemesanan tiket. Saya pikir mungkin ibu itu salah ngisi form jadi harus ngisi form lagi. Di meja penulisan, si ibu minta tolong seorang pemuda buat nulisin form pemesanan tiketnya dia. Setelah selesai diisi, ibu itu sempat ngobrol sebentar dengan si pemuda, terus tiba-tiba si pemuda mengeluarkan uang dari kantong celananya lalu diberikan ke ibu itu. Kemudian si ibu ngantri lagi di loket. Selama ngantri di loket, si ibu ngajak ngobrol seorang pemudi. Entah apa obrolannya.
Saya terus memperhatikan gerak-gerik si ibu. Sempat ada rasa curiga kalau ibu itu penipu. Sampai akhirnya saya sadar kalau 10 menit lagi kereta saya berangkat. Saya pun segera masuk ke peron, berjalan menuju gerbong kereta, dan berusaha tidak memedulikan si ibu tadi. Keesokan harinya saya cerita pengalaman saya ini ke temen saya yang sering bolak-balik Surabaya-Blitar. Kata teman saya, sekarang emang banyak orang yang menipu untuk dapat uang dengan modus seperti yang saya alami. Hmm, hati-hati ya guys kalau bepergian sendiri, lebih waspada dan banyakin berdoa minta perlindungan sama Allah :)
2. The Man
Dalam perjalanan pulang ke Jogja, saya duduk di kursi 12A gerbong 4 Kereta Api Logawa tujuan Purwokerto. Awalnya ada sepasang suami istri dan seorang anaknya yang duduk di depan saya. Di samping saya, duduk seorang lelaki berkumis, mungkin usianya sekitar 30an tahun. Bapak itu berbaik hati menaikkan tas ransel saya ke tempat naruh tas di kereta. Bapak itu pun ngajak saya ngobrol, tanya mau kemana, asalnya darimana, kuliahnya dimana, semester berapa, banyak lah. Saya juga balik bertanya sama si bapak. "Saya mau ke Purwokerto, saya aslinya dari sana (Purwokerto)", begitu jawab si Bapak waktu saya tanya mau kemana. Kemudian si Bapak cerita tentang pekerjaan sepupunya, yang saya agak-agak nggak ngerti haha.
Di Mojokerto, keluarga yang duduk di depan saya pun turun, kemudian datang tiga orang pemuda berpeci duduk di kursi depan saya, menggantikan sekeluarga yang sudah turun barusan. Mereka bertiga adalah anak pondok pesantren yang mau balik ke Kroya. Obrolan ringan pun berlangsung. Salah seorang dari mereka bertanya ke bapak di sebelah saya, "Mau kemana pak?". "Ke Purwokerto", jawab si Bapak. "Oo, asalnya dari mana pak?", tanya pemuda lagi. "Madura, saya asli Madura. Saya kerja di Purwokerto, disana sudah punya rumah.", jawab si Bapak. Saya pun mengerutkan dahi, bingung sebenarnya si Bapak orang Purwokerto atau Madura, mungkin blasteran Purwokerto-Madura. Well, I have no idea about this man.
3. The Gay
Waktu itu hari Minggu. Setelah menyempatkan diri untuk datang ke perayaan wisuda temen-temen di Universitas Airlangga, malamnya saya jalan-jalan sama Rini ke Plaza Surabaya. Setelah mendapatkan barang yang pengen dibeli, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke kosan. Di parkiran motor, Rini lihat ada hape jatuh. Blackberry Curve. Saya ambil hapenya, saya coba hubungi ke kontak yang ada di hape tersebut. Tapi ternyata pulsanya nggak cukup buat telepon. Lalu kami coba kirim bbm ke kontak terakhir yang dihubungi si pemilik hape. Sayangnya nggak terkirim karena sinyal internetnya cupu. Lalu kami coba kirim sms ke kontak terakhir yang dihubungi dan Alhamdulillah terkirim.
Kontak yang kami hubungi namanya 'Abie-ku' yang merupakan kontak terakhir yang dihubungi via bbm oleh si pemilik hape. Saya sempat baca sekilas isi bbmnya, si pemilik hape dipanggil 'yank' oleh 'Abie-ku' ini. Berarti 'Abie-ku' adalah pacar si pemilik hape, begitu pikir saya. Saya sempat berdebat sama Rini tentang jenis kelamin 'Abie-ku' ini. Kalau menurut saya sih dia cowok, jadi si pemilik hape adalah ceweknya 'Abie-ku'. Tapi menurut Rini, 'Abie-ku' adalah cewek, jadi pemilik hape adalah cowok. Whatever, karena nggak dibales-bales sama 'Abie-ku', akhirnya hape itu kami bawa pulang ke kosan dan kami sms untuk ambil di kosan.
Di perjalanan pulang, 'Abie-ku' telpon, bilang terimakasih dan ngasih tau kalau si pemilik hape mau ambil hapenya di kosan. Dan ternyata si 'Abie-ku' adalah cowok. Yap, berarti yang punya hape adalah cewek, pikir saya. Sesampainya di kosan, ada kontak lain yang telepon, sebut saja dia X yang ngakunya adalah si pemilik hape. Tapi ternyata si X adalah cowok. Nah lho! Kemudian muncul spekulasi buruk di pikiran saya. Saya pun buka gallery hape, tapi cuma ada foto gereja dan dua biji foto lelaki. Saya makin penasaran, saya lihat wallpapernya, foto cowok, saya pikir itu foto yang punya hape. Karena sangat penasaran, akhirnya saya baca bbm si pemilik hape dengan 'Abie-ku'. Mereka saling panggil 'yank', 'sayang'. Saya baca bbmnya dengan serius hahahah, kemudian saya nggak tahan karena yang mereka bahas adalah BOKEP -_-, akhirnya saya hentikan kekepoan itu. Saya back, terus saya baru sadar kalau DP bbmnya adalah foto dua lelaki yang duduk bersebelahan dengan wajah tersenyum, salah satunya adalah cowok yang fotonya sama kaya wallpaper. Fix, mereka HOMO! Saya, Rini, dan Lia yang barusan pulang ke kos langsung speechless, dan cuma bisa ketawa miris dengan kenyataan ini hahaha.
Singkat cerita, si pemilik hape dateng ke kosan jam 10 malam untuk ngambil hapenya. Kami kembalikan hapenya dengan senang hati karena beban bawa hape orang sudah hilang. Dan ya, si pemilik hape adalah cowok.
Yap, begitulah cerita tentang pertemuan saya dengan beberapa stranger di Surabaya. Kita bakal ketemu sama siapa dan dimana memang nggak bisa diprediksi. So, guys, enjoy aja ketemu sama orang-orang asing, yang penting tetep waspada ye gak!
Yogyakarta, November 2014
Yap, begitulah cerita tentang pertemuan saya dengan beberapa stranger di Surabaya. Kita bakal ketemu sama siapa dan dimana memang nggak bisa diprediksi. So, guys, enjoy aja ketemu sama orang-orang asing, yang penting tetep waspada ye gak!
Yogyakarta, November 2014

Comments
Post a Comment