Festival IYC 2012, Kita Yang Menentukan

Subuh, kedatangan saya di stasiun Pasar Senen Jakarta mengawali 7 Juli yang sangat berkesan. Setelah beristirahat sebentar di rumah dan melakukan persiapan, kami (saya, Deta, Fani) segera menuju Plasa UOB di daerah Thamrin. Bermodal tiket 100.000 rupiah, saya mendapatkan berbagai ilmu, motivasi, pengalaman, teman, kesenangan, dan pemandangan (?) dalam acara ini. Festival Indonesian Youth Conference 2012, “Kita Yang Menentukan”.

Indonesian Youth Conference adalah sebuah acara yang diselenggarakan oleh pemuda sebagai wadah bagi anak muda Indonesia untuk berpartisipasi dalam membangun negeri dan aktif membawa perubahan yang efektif bagi Indonesia. IYC diadakan pertama kali pada tahun 2010 dan tahun ini merupakan tahun ketiga. IYC terdiri dari dua kegiatan, Forum dan Festival. Pada sesi Forum dipilih 33 Duta dan 33 Delegasi perwakilan tiap provinsi untuk mendapatkan pembekalan materi untuk diaplikasikan di daerahnya masing-masing. Forum IYC diadakan tiap dua tahun sekali. Sekedar informasi, perwakilan DIY pada Forum IYC 2010 dan 2012 keduanya merupakan siswa SMAN 1 Yogyakarta, Ikhsan Brilianto dan Gayuh Mustiko Jati. Sedangkan sesi Festival dibuka untuk umum. Festival terdiri dari beberapa pilihan seminar dan lokakarya, Artspace, Stan dari sponsor, dan pertunjukan musik dan kebudayaan. Nah, Festival IYC ini lah yang saya ikuti.

Pukul 08.30, Thamrin Nine Ballroom telah dipenuhi oleh lebih dari 1000 pemuda yang mengikuti Festival IYC 2012. Acara dibuka dengan sambutan panitia dan penampilan Atthira Fadya yang menyanyi dengan diiringi petikan harpa oleh Talisha Amara yang sangat memukau. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi seminar. Festival IYC menyediakan 12 topik seminar, yaitu Pendidikan, Jurnalisme dan Media Sosial, HAM, Anti Korupsi, Gerakan Pemuda, Kreativitas, Olahraga, Politik, Diplomasi, Ekonomi & Kewirausahaan, Sejarah, dan Sudut Pembaharu. Dari 12 topik tersebut dibagi menjadi 3 sesi sehingga peserta dipersilakan memilih dan mengikuti 3 topik. Saya sendiri mengikuti topik Jurnalisme Media Sosial, Kreativitas, dan Ekonomi & Kewirausahaan.

Sesi seminar pertama. Jurnalisme Media Sosial diisi oleh Enda Nasution (Managing Director salingsilang.com) dan Metta Dharmasaputra (Direktur Eksekutif KATADATA). Dengan tema “Jurnalisme dan Media Sosial Sebagai Senjata Perubahan”, kedua pembicara tersebut menjelaskan dengan menarik bagaimana pada jaman sekarang sosial media sangat berpengaruh pada kehidupan suatu bangsa.

Sesi seminar kedua. Kreativitas. Dengan tema “Semangat Berkreasi Tanpa Batas”, para peserta dipacu untuk menjadi pribadi yang kreatif oleh dua pembicara yang cukup terkenal, Didi Petet (Aktor) dan Ade Darmawan (Direktur Ruangrupa). Kreatif tak perlu logika tapi harus punya visi, berpikirlah out of the box namun tetap kritis. Bagian yang paling saya suka dari sesi ini adalah ketika Didi Petet membacakan sebuah puisi “Menuku” karya Husni Djamaludin, 1979.

Sesi seminar ketiga. Ekonomi & Kewirausahaan. Karena cita-cita kedua saya setelah Dokter Gigi (yang ga bakal kesampaian) adalah jadi pengusaha, maka saya pilih topik seminar ini. Disampaikan dengan menarik dan penuh humor oleh Ligwina Hananto (Chief Executive Officer QM Financial) dan Agus Hartono Wijaya (Head of Business Development & Merchant Acquisition PT Multiply Indonesia). Sesi ini sukses membuat para peserta semakin tertarik untuk berwirausaha karena memang saat ini Indonesia membutuhkan pengusaha untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru. Di sesi ini kami belajar bagaimana cara berbisnis dan mengatur keuangan. Intinya sih, terus mencoba dan jangan mudah menyerah. Do something because you love it, not because you good at. Begitu pula dengan bisnis, harus diawali dengan rasa suka. Paling penting: Pisahkan uang pribadi dengan uang bisnis.

Diantara waktu luang menunggu sesi selanjutnya, para peserta disuguhi dengan pameran kesenian atau Artspace. Hasil karya peserta Artspace yang telah diseleksi dipamerkan untuk kemudian divote karya mana yang menjadi karya favorit. Karya yang dipamerkan ada yang berasal dari mahasiswa ISI, ITB, UKJ, Jakarta 32o, dan beberapa karya individu. Di Artspace juga terdapat pameran Card to Post yang berisi pesan dari para pemuda untuk presiden Indonesia. Pada Festival IYC ini juga terdapat stan-stan dari pendukung acara. Antara lain, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Trans TV, Multiply, JakartaGlobe, Intel, Kontras, dan lain-lain.

Pukul 17.00 acara dilanjutkan dengan Surprised Session. Tak ada yang tahu siapa bintang tamu dalam sesi ini, sampai akhirnya dipanggil nama Drs. Suyadi dan seketika riuh lah Thamrin Nine Ballroom saat itu. Tahu siapa beliau? Pak Raden. Berjalan tertatih ke atas panggung, beliau dibantu tongkat penyangganya dan beberapa panitia. Di usianya yang cukup senja, 79 tahun, beliau masih tetap menunjukkan semangatnya untuk berbagi kisah dan cerita pada peserta festival IYC. Semua mata tertuju pada Pak Raden ketika beliau mendongeng dengan gambar tentang Beruang dan Majikannya. Dalam dongeng yang menarik tersebut, terdapat dua buah pesan penting. 
Semua anak Indonesia harus kuat dan tak boleh bodoh.” 
“Lebih baik mempunyai musuh yang pandai daripada kawan yang bodoh. Kawan bodoh suatu saat dapat mencelakakan kita, sedangkan musuh yang pandai akan membuat kita tetap siaga.”
Pak Raden mendongeng
Selain Pak Raden, Surprised Session juga diisi oleh Bapak Ubay Abdillah, seorang alumnus aktivis 1998 yang sekarang bekerja sebagai dosen di Universitas Negeri Jakarta. Pak Ubay dengan ramah menceritakan pengalaman  beliau dan sejarah Indonesia pada masa Orde Baru. Bagaimana para mahasiswa dan masyarakat berjuang menuntut adanya revolusi pada masa itu. Sekali lagi, peran pemuda sangat dibutuhkan untuk kemajuan suatu bangsa. Seperti pesan Pak Raden, “Dunia ini milik Anak Muda. Berkaryalah!”. Sesi Surprised Session yang dipandu oleh Senandung Nacita Mizwar itu berhasil menarik perhatian seluruh peserta festival IYC. Tentu saja dengan harapan apa yang disampaikan oleh dua tokoh hebat tersebut dapat memacu para pemuda untuk melakukan perubahan baik bagi Indonesia.

Pukul 18.45 sesi yang paling ditunggu, Pertunjukan Musik dan Kebudayaan. Diawali dengan pentas Tari Kecak dari Sanggar Tari Bali Pregina Agung yang sangat memukau. Jujur, saya merinding lihat pentas tari ini dan tersadar kalau Indonesia memang punya sangat banyak kebudayaan yang menakjubkan. Setelah pentas tari kecak, giliran gueststar kedua tampil di atas panggung. Band HiVi! Saya sendiri baru tahu HiVi dari IYC ini. Maklum, HiVi tergolong band baru yang diproduseri oleh Nino RAN. Tidak terlalu peduli dengan seluk beluk HiVi, yang jelas saya yang berdiri tepat di depan panggung waktu itu merasa nggak konsen. Kenapa? Karena drummernya ganteng, hahaha. Sayangnya drummer ini bukan termasuk salah satu personil dari HiVi. HiVi membawakan lima buah lagu, diantaranya Orang Ketiga dan Indahnya Dirimu, dua lagu dari album pertama mereka yang beberapa bulan lalu rilis.
Tari Kecak
The Drummer
Selain HiVi, ada satu bintang tamu lagi yang sangat ditunggu-tunggu. Raisa. Memang benar kata orang kalau Raisa ini cantik sekali. Saya pun kagum, sudah cantik suaranya bagus pula. Raisa membawakan beberapa lagu. Terjebak Nostalgia, Serba Salah, Apalah Arti Menunggu, Could It Be, Stand Up for Love – Destiny’s Child, Rolling In The Deep – Adele, dan lainnya lupa. Festival IYC 2012 pun resmi ditutup pukul 21.30 WIB.
Raisa
Festival IYC 2012 ini sangat berkesan bagi saya. Sungguh sangat memotivasi untuk melakukan sebuah perubahan baik bagi Bangsa Indonesia tercinta. Sudah ada tekad, akan saya mulai dari hal kecil yang saya bisa :). Tahun depan jika ada kesempatan, ingin sekali untuk ikut Indonesian Youth Conference lagi, kalau bisa tidak hanya sekedar jadi peserta, jadi volunteer mungkin. Semoga.

Comments

Popular posts from this blog

LeeSsang (Feat. Baek Ji Young, Rap. Gary) - Remembrance (회상)

Masjid Muhammad Cheng Hoo

Secrets