Kota Tua Belum Usai Dijelajah

Niat awal kami pergi ke Kota Jakarta adalah untuk menghadiri Festival Indonesian Youth Conference 2012 di Thamrin. Tapi berhubung ujian telah usai dan liburan panjang sudah tampak di depan mata, kami putuskan untuk menetap selama tiga hari di Ibukota. Saya, Deta, Alfani. Hari pertama di Jakarta kami habiskan untuk bersenang-senang menimba ilmu di Festival IYC 2012. Sedari pagi hingga malam menjelang, kami menghabiskan waktu di dalam gedung yang dinginnya hampir setara dengan udara lereng Gunung Merbabu. Serius. Thamrin Nine Ballroom. Ruangan sangat besar dengan langit-langit menjulang tinggi ke atas. Entah dimana letak pendingin ruangan sadis itu. Sama sekali tidak terlihat alat elektronik yang bentuknya seperti AC pada umumnya. Mayoritas peserta yang hadir di IYC mengeluhkan hal yang sama dengan saya. Dingin. Sekali. Saya yang memang tidak cocok berlama-lama di ruangan ber-AC hanya bisa duduk diam mendekap tangan sambil memperhatikan pembicara. "AC nya mana sih ga keliatan?". "Gila ni center gedungnya pasang suhu berapa derajat sih?". Begitulah kira-kira keluhan para peserta. Terlepas dari super dinginnya ruangan, Festival IYC tetap memberikan kesan menarik.


Hari kedua. Kami bangun kesiangan. Selama di Jakarta saya menginap di rumah Deta di daerah Pejompongan, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. 8 Juli 2012 kami habiskan untuk jalan-jalan menyusuri Kota Tua di Jakarta Barat. Berangkat dari rumah menggunakan angkot kemudian transjakarta. Saat itu adalah pengalaman pertama saya naik transjakarta. Selama naik transjakarta, saya punya dua kesimpulan. 1) Betapa masyarakat Ibukota sangat membutuhkan alat transportasi umum semacam transjakarta. 2) Naik transjakarta emang nggak macet. Tapi NGANTRI buat naik transjakarta itu yang sering macet. Tidak ada pembatasan jumlah penumpang dalam bus. Yang penting penuh, kalau sudah tidak bisa dimasuki penumpang lagi barulah pintu ditutup. Untuk sampai di kota tua, perjalanan menggunakan transjakarta dari halte Bendungan Hilir (Benhill) membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Tujuan pertama kami setiba di Kota Tua adalah Museum Bank Mandiri. Masuk Museum Bank Mandiri tidak dipungut biaya alias gratis. Menurut berbagai sumber yang saya baca, bangunan museum ini dulunya merupakan kantor wilayah Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia. Kemudian beralih menjadi kantor pusat Bank Export-Import (Exim). Lalu bergabung dengan Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri. Maka gedung warisan sejarah ini pun beralih menjadi aset Bank Mandiri. Di dalamnya tersimpan banyak arsip perbankan dari zaman Belanda dan perkembangannya. Alat hitung seperti kalkulator dengan berbagai model pun tersimpan dengan baik di museum berlantai empat ini. Koleksi operasional bank yang tersimpan di museum ini antara lain, peti uang, kalkulator, telepon, mesin cetak, brandkast, berbagai surat berharga seperti saham, cek, bilyet, dan sebagainya. Di dalamnya pun terdapat patung-patung yang dibuat sedemikian rupa sehingga menggambarkan bagaimana kegiatan perbankan pada zaman dahulu. Di lantai 2 ada ruang direksi yang sangat besar, biasanya digunakan untuk rapat direksi para pejabat perbankan tempo dulu. Ada juga foto-foto direktur Bank Exim, BDN, BBD, Bapindo, dan Bank Mandiri yang menjabat sejak awal berdirinya Bank hingga sekarang. Selama kurang lebih 2 jam kami menyusuri isi Museum Bank Mandiri, benar-benar tidak terasa.

koleksi alat hitung dipajang di dinding. keren..



Setelah lelah melihat-lihat keunikan Museum Bank Mandiri, kami kembali menjelajah Kota Tua Jakarta. Berjalan cukup jauh, akhirnya kami singgah di Museum Wayang. Dengan membeli karcis masuk seharga dua ribu rupiah, kami bisa menikmati keunikan wayang yang terdapat di museum wayang ini. Wayang-wayang yang ada di museum ini modelnya lebih ke wayang Jawa bagian barat, beda sama koleksi wayang di Museum Wayang Jogja. Oya, di museum ini ada peraturan dilarang memotret/menggambil gambar. Tidak terlalu lama berkeliling Museum Wayang, karena memang sudah lelah berjalan. Kami pun memutuskan untuk keluar dan melihat-lihat pameran di sepanjang jalan daerah Kota Tua. Ada juga panggung kesenian yang waktu itu menampilkan tarian daerah betawi dan beberapa band lokal. Sebenarnya masih ada beberapa museum yang bisa dikunjungi di Kota Tua, Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, dan Museum Seni Rupa & Keramik.

Panas terik dengan kondisi padat penuh dengan wisatawan membuat perjalanan terasa semakin melelahkan. Sore menjelang, matahari sedikit demi sedikit mulai mengarah ke ufuk barat. Perut pun mulai berkeroncong nyaring. Kami memutuskan untuk pulang. Agak sial memang, karena tak tahu arah kami harus jalan berputar-putar menuju halte transjakarta. Ditemani padatnya jalanan Jakarta dan polusi yang tak terhindarkan akhirnya kami berhasil  sampai di halte Kota. Mengantri lagi dan perjalanan singkat kami di Kota Tua hari itu pun selesai...
Museum merupakan salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi. Agar tak lupa sejarah, agar mengerti kebudayaan bangsa, agar tahu bagaimana perjuangan bangsa tempo dulu. 
PS: sementara adanya cuma foto narsis. besok diganti deh. ga niat juga ini, berantakan hha

Comments

Popular posts from this blog

LeeSsang (Feat. Baek Ji Young, Rap. Gary) - Remembrance (회상)

Masjid Muhammad Cheng Hoo

Secrets