Kemenpora Kemudian Monas
9 Juli 2012. Hari ketiga saya di Jakarta. Lagi-lagi diawali dengan bangun kesiangan. Untungnya memang sedang tidak wajib sholat subuh. Destinasi perjalanan untuk Hari Senin yang cerah itu adalah Monumen Nasional dan Pekan Raya Jakarta. Setelah bersiap dengan segala perbekalan (makanan dan minuman), kami pun berangkat dengan menumpang mobil ayah Deta yang hari itu mulai ngantor.
Mobil melaju keluar dari kawasan Bendungan Hilir, melewati jalan yang hanya boleh dilewati oleh mobil dengan penumpang minimal 3 orang. Di kiri jalan terlihat beberapa orang menawarkan diri untuk jadi penumpang bayaran. Pada hari itu lah saya baru tahu maksud dari 'Joki 3 in 1'. Melewati Istora Senayan atau Gelora Bung Karno yang biasa digunakan untuk even olahraga dan kemasyarakatan. Tidak jauh dari GBK, mobil berbelok berpindah jalur lalu mengarah ke kiri memasuki kawasan Kementrian Pemuda dan Olahraga.
Sebelumnya saya sudah tahu kalau ayah Deta bekerja di Kemenpora. Tapi tidak pernah saya bayangkan kalau beliau mengundang saya dan Fani untuk berkunjung sebentar ke kantornya. "Harus masuk dulu, nanti baru diantar ke Monas", kata beliau. Turun dari mobil, beberapa pegawai Kemenpora langsung menyambut hangat kedatangan kami. Menuju lantai 4 menggunakan lift, kemudian tiba lah kami di ruangan Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga. Lagi-lagi kami disambut ramah oleh pegawai disana. Di pikiran saya waktu itu hanya ada satu kalimat, "Ooh, kementrian tu kaya gini toh.." Masuk ke ruangan kerja, kami duduk di sofa yang nyaman. Sementara ayah Deta memulai pekerjaan dengan berkas-berkas beliau. Dari jendela ruangan saya bisa melihat sebuah bangunan hotel di sebelah kiri, dan gedung DPR tepat di depan tertutup sedikit pepohonan.
Mobil melaju keluar dari kawasan Bendungan Hilir, melewati jalan yang hanya boleh dilewati oleh mobil dengan penumpang minimal 3 orang. Di kiri jalan terlihat beberapa orang menawarkan diri untuk jadi penumpang bayaran. Pada hari itu lah saya baru tahu maksud dari 'Joki 3 in 1'. Melewati Istora Senayan atau Gelora Bung Karno yang biasa digunakan untuk even olahraga dan kemasyarakatan. Tidak jauh dari GBK, mobil berbelok berpindah jalur lalu mengarah ke kiri memasuki kawasan Kementrian Pemuda dan Olahraga.
Sebelumnya saya sudah tahu kalau ayah Deta bekerja di Kemenpora. Tapi tidak pernah saya bayangkan kalau beliau mengundang saya dan Fani untuk berkunjung sebentar ke kantornya. "Harus masuk dulu, nanti baru diantar ke Monas", kata beliau. Turun dari mobil, beberapa pegawai Kemenpora langsung menyambut hangat kedatangan kami. Menuju lantai 4 menggunakan lift, kemudian tiba lah kami di ruangan Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga. Lagi-lagi kami disambut ramah oleh pegawai disana. Di pikiran saya waktu itu hanya ada satu kalimat, "Ooh, kementrian tu kaya gini toh.." Masuk ke ruangan kerja, kami duduk di sofa yang nyaman. Sementara ayah Deta memulai pekerjaan dengan berkas-berkas beliau. Dari jendela ruangan saya bisa melihat sebuah bangunan hotel di sebelah kiri, dan gedung DPR tepat di depan tertutup sedikit pepohonan.
Tidak banyak yang bisa saya lakukan di Kemenpora, hanya duduk melihat Deta dan adiknya membuka souvenir dari Malaysia dan Thailand, minum teh, kemudian ngobrol bersama ibu Deta, lalu membaca majalah Go Adventure Go Green yang ada di meja. Tidak lama kemudian, datang pegawai Kemenpora membawakan beberapa piring siomay. Sungguh pengalaman unik bisa menikmati siomay di salah satu ruang kerja gedung Kemenpora. Dengan tingkah polah adik Deta yang tidak bisa diam, kami dibuat tertawa lepas menambah suasana nyaman dan kekeluargaan yang hangat di ruang kerja ber-AC itu. Sekitar hampir satu jam singgah di Kemenpora, kami berpamitan dengan ayah Deta lalu melanjutkan perjalanan menuju Monumen Nasional diantar oleh Mas Gino.
![]() |
| jamuan teh di Kemenpora |
Singkat cerita, sampailah kami di Monas. Monumen Nasional. Tugu atau Monumen peringatan setinggi 132 meter ini menjadi salah satu monumen kebanggaan warga ibukota. Banyak orang berpendapat Monas adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi bila sedang di Jakarta. Dengan mahkota lidah api yang dilapisi lembaran emas 38 kg, monumen ini terlihat begitu megah dan menawan. Saat pertama kali melihat Monas secara langsung, saya pun begitu tertarik untuk segera mengeksplor bagian dalam tugu nasional ini.
![]() |
| this is it! |
Monumen Nasional ini dibangun pada areal seluas 80 hektar, tidak heran kalau Monas memiliki halaman yang sangaaat luas. Untuk mencapai pintu masuk, harus berjalan cukup jauh dari tempat parkir. Tiket masuk Monas terbilang sangat murah, Rp 1000,00 untuk pelajar/mahasiswa dan Rp 2000,00 untuk umum.
Bagian yang paling saya suka dari Monas adalah lantai dasar. Di lantai dasar ini terdapat Museum Sejarah Nasional. Di dalamnya terdapat 51 diorama yang menggambarkan masa pra sejarah Indonesia hingga masa orde baru. Mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto. Mengenang sejarah memang menyenangkan, ditambah saat itu saya melihat beberapa orang tua menjelaskan dengan detail setiap diorama kepada anak-anaknya yang sangat antusias. Sungguh momen yang sangat berharga.
Dengan melihat dan membaca keterangan pada setiap diorama, otak saya seperti ditarik kembali untuk mengingat pelajaran sejarah yang saya dapat ketika duduk di bangku sekolah. Kemudian saya membayangkan jika saya berada pada situasi seperti yang tergambar pada diorama. Saat masa penjajahan. Perang Diponegoro. Tanam Paksa. Romusha. Persiapan kemerdekaan. Hingga detik-detik menjelang kemerdekaan. Merinding rasanya. Betapa penduduk Indonesia saat itu berjuang mati-matian untuk mengusir penjajah. Diorama romusha lah yang paling membuat hati saya tergetar. Jalan raya, rel, jembatan yang kini tinggal kita lewati dengan leluasa, dulunya kakek nenek kita lah yang mati-matian membuatnya. Tidak sedikit dari mereka yang meninggal akibat romusha. Walaupun nama mereka tidak tercantum dalam list pahlawan nasional, tapi jasa mereka akan selalu dikenang, bukan?
Kunjungan saya ke Monas bisa dibilang bukan pada waktu yang tepat. Masa liburan anak sekolah membuat pengunjung Monas jadi berjubel. Tak heran antrian untuk naik ke pelataran puncak Monas pun mengular panjang. Karena penasaran dengan pelataran puncak Monas, saya Deta dan Fani memutuskan untuk ikut mengantri. Dengan membeli tiket Rp 3500,00 kemudian kami masuk dalam antrian. Monas hanya punya satu lift untuk mengantar pengunjung naik-turun puncak. Dengan kapasitas lift maksimal 11 orang, sedangkan ada ratusan pengunjung yang penasaran dengan pelataran puncak Monas. Tentu saja kami harus mengantri dengan sabar.
Mau tahu berapa lama kami mengantri untuk dapat giliran naik lift? DUA JAM. Ya, saya pikir itu adalah dua jam yang sia-sia. Sangat sia-sia. Kenapa? Karena setelah sampai puncak Monas yang saya rasakan pertama kali adalah sempit, kotor, dan ramai. Pemandangan Kota Jakarta yang terlihat dari atas pun menjadi tidak menarik sama sekali. Saat bosan mengantri, ada sekilas di pikiran saya untuk keluar dari antrian dan berlalu ke PRJ. Tapi karena salah seorang dari kami bertiga sangat penasaran dengan pelataran puncak, jadilah kami sabar mengantri selama dua jam. Dan itu tidak sebanding dengan apa yang didapat setelah sampai di pelataran puncak. Huft...
![]() |
| Crowded |
![]() |
| Dari pelataran puncak (115 meter dari dasar). Berkabut. |
Selama lima menit kami berada di pelataran puncak, kemudian kami memutuskan untuk segera turun. Singgah sebentar di pelataran cawan, menikmati angin berharap bisa refresh. Saat itu hari sudah sore, tidak mungkin bagi kami untuk lanjut mengunjungi Pekan Raya Jakarta karena pukul 7 malam kami harus kembali ke Jogjakarta. Akhirnya dengan fisik lelah dan perasaan kecewa, kami pulang menggunakan transjakarta. Beruntung saat itu bus sedang sepi penumpang. Pengalaman yang sangat menyebalkan untuk diingat. Kecewa dan menyesal karena tidak jadi ke PRJ. Ahh, yasudah lah setidaknya saya dapat mengingat pelajaran sejarah di Monas.
![]() |
| Dari pelataran cawan. 17 meter dari dasar. |
Ada sebuah pengumuman saat kami keluar dari Monas, "Kepada para pengunjung, diberitahukan bahwa pelataran puncak Monas telah ditutup". Ahh, beruntung sekali pengunjung yang baru saja datang saat itu.





Comments
Post a Comment